Ringkasan Risalah Haji

Spread the love
ustadz salman al farisi 2
Oleh Ustadz Salman Al Farisi Sekretaris DSD PKS Jaksel

A. Definisi Haji dan Umrah, Hukumnya serta Syarat Kewajibannya

Haji adalah berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah thawaf, sa’i, wukuf di Arafah dan tuntunan manasik lainnya, pada waktu dan tempat yang telah ditentukan, demi menyambut perintah Allah dan mengharap ridha-Nya. Haji mempunyai rukun, wajib, sunnah serta adab-adabnya. Haji hukumnya wajib sekali seumur hidup.

Umrah adalah berkunjung ke ka’bah dan thawaf di sekelilingnya, serta sa’I antara bukit shafa dan marwah, kemudian tahallul. Waktunya bebas tidak ditentukan. Umrah hukumnya Sunnah Muakkadah.
Syarat kewajiban haji dan umrah:
1. Islam,
2. Berakal,
3. Baligh,
4. Mampu. Artinya, mampu menafkahi dirinya, keluarganya, mampu membayar biaya perjalanan dan mampu melakukan perjalanan dengan rasa aman.

B. Rukun, Wajib dan Sunnah Haji
a. Rukun Haji (apabila ditinggalkan maka tidak sah hajinya)
1. Ihram,
2. Thawaf,
3. Sa’i,
4. Wukuf.

b. Wajib Haji (apabila ditinggalkan membayar dam)
 Wajib haji dalam ihram:
1. Ihram dari Miqat,
2. Tidak memakai pakaian berjahit (bagi laki-laki),
3. Melafazkan talbiyah,
 Wajib haji setelah wukuf di Arafah :
1. Mabit (bermalam) di Muzdalifah pada malam ke-10 Dzul Hijjah,
2. Melontar Jumroh Aqabah pada hari ke-10 Dzul Hijjah,
3. Tahallul setelah melontar Jumroh Aqabah,
4. Mabit di Mina pada malam ke- 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah,
5. Melontar Jumroh Ula, Wustha dan Aqabah pada hari ke-11, 12 dan 13 Dzul Hijjah
6. Thawaf Wada’,

c. Sunnah Haji (apabila ditinggalkan tidak wajib bayar dam, tapi tidak mendapatkan pahala)
 Sunnah haji dalam ihram :
1. Mandi untuk memakai pakaian ihram,
2. Dua helai pakaian ihram berwarna putih,
3. Niat ihram setelah shalat sunnah atau wajib,
4. Memotong kuku, mencukur kumis, memangkas rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak,
5. Mengulang-ulang bacaan talbiyah,
6. Berdoa dan bershalawat kepada Nabi setelah talbiyah,

 Sunnah haji dalam thawaf :
1. Berlari-lari kecil (khusus laki-laki) dan pada thawaf qudum saja serta pada tiga putaran pertama,
2. Menyelempangkan pakaian ihram bagian atas sehingga terlihat ketiak lengan kanan (khusus laki-laki) dan pada thawaf qudum saja,
3. Mencium hajar aswad ketika memulai thawaf,
4. Membaca : Bismillah Allahu Akbar ketika memulai thawaf,
5. Banyak berdoa ketika thawaf,
6. Mengusap rukun yamani dengan tangan,
7. Doa di Multazam setelah melaksanakan thawaf,
8. Shalat dua raka’at setelah thawaf di belakang maqam Ibrahim,
9. Minum air zamzam setelah selesai thawaf,

 Sunnah haji dalam sa’I :
1. Berlari-lari kecil antara dua lampu hijau,
2. Berhenti di atas bukit Shafa dan Marwah seraya berdoa,
3. Memperbanyak doa ketika berjalan antara Shafa dan Marwah, begitu pula sebaliknya,
4. Mengucapkan : Allahu Akbar 3x ketika naik ke bukit Shafa dan Marwah,
5. Beraturan, sai dilaksanakan setelah thawaf langsung tanpa ada kegiatan penyela.

 Sunnah haji sebelum dan setelah wukuf :
1. Berangkat ke Mina pada hari ke-8 (Tarwiyah) dan mabit di sana,
2. Shalat Dzuhur dan Asar di masjid Namirah, perbatasan Arafah,
3. Mengakhirkan shalat maghrib dan isya di Muzdalifah, setelah menyelesaikan wukuf,
4. Ketika wukuf menghadap ke arah kiblat,
5. Melakukan Jumroh Aqabah, penyembelihan hewan qurban, tahallul dan thawaf ifadhah pada hari ke-10 Dzul Hijjah secara berurutan,
6. Melaksanakan thawaf ifadhah sebelum matahari terbenam hari ke-10 Dzul Hijjah.

C. Hal-hal Yang Dilarang Ketika Berhaji (ketika sudah memakai pakaian ihram)
1. Menutup kepala dengan benda apapun,
2. Mencukur rambut, baik rambut kepala atau rambut kemaluan,
3. Memotong kuku,
4. Memakai wangi-wangian,
5. Memakai pakaian berjahit,
Kelima hal di atas, bagi orang yang melanggarnya diwajibkan membayar fidyah, yaitu puasa tiga hari, atau memberi makan enam orang miskin, atau menyembelih seekor kambing. (QS. Al-Baqarah: 196)
6. Melakukan hubungan suami-istri,
Orang yang melanggarnya maka hajinya rusak dan harus diulang di tahun yang akan datang. Ia tetap melanjutkan manasik hajinya sampai selesai dan diwajibkan membayar dengan menyembelih seekor unta, atau kalau tidak mampu dengan berpuasa sepuluh hari.
7. Membunuh binatang buruan,
Orang yang melanggarnya diwajibkan mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan binatang buruan yang dibunuhnya, atau membayar kafarat dengan memberi makan kepada orang-orang miskin (sepadan dengan hewan ternak pengganti hewan yang dibunuh itu), atau berpuasa yang jumlah harinya sebanyak mud yang diberikan kepada fakir miskin, seharga hewan yang dibunuh. (QS. Al-Maidah: 95)
8. Gerakan-gerakan pendahuluan dalam berhubungan suami-istri, seperti mencium dll.
Orang yang melanggarnya dikenakan dam yaitu menyembelih seekor kambing
9. Akad nikah atau lamaran, dan dosa-dosa lainnya seperti mencaci-maki, ghibah, mengadu domba dll.
Orang yang melanggarnya diwajibkan bertaubat dan memperbanyak istighfar.

D. Tata Cara Haji dan Umrah
1. Bagi orang yang ingin pergi haji atau umrah, diMULAI dengan :
a. memotong kukunya,
b. mencukur kumisnya,
c. memangkas rambut kemaluannya,
d. mencabut bulu ketiaknya,
e. mandi dan
f. memakai PAKAIAN IHRAM dan sandal.

2. Dengan berpakaian ihram, berangkat menuju MIQAT dan melakukan :
a. Shalat sunnah atau fardhu,
b. NIAT HAJI atau UMRAH. Lafaznya:
– لبيك اللهم حجا (apabila berkeinginan haji ifrad) 
– لبيك اللهم عمرة (apabila berkeinginan haji tamattu’)
– لبيك اللهم حجا وعمرة (apabila berkeinginan haji qiran) 
c. Membaca talbiyah dengan mengangkat suaranya. Lafaznya:
لبيك اللهم لبيك ، لبيك لا شريك لك لبيك ، إن الحمد والنعمة لك والملك ، لا شريك لك
d. Menyelingi bacaan talbiyah dengan doa dan shalawat kepada baginda Rasul.
e. Membiasakan lisannya berzikir kepada Allah, penglihatannya bukan kepada yang haram, memperbanyak senyum dan amal baik lainnya.

3. Berangkat menuju MAKKAH dan melakukan :
a. Mandi ketika memasuki kota Makkah jika memungkinkan,
b. Masuk ke Masjidil Haram melalui Bab Salam jika memungkinkan, atau pintu lainnya seraya berdoa :
بسم الله وبالله والى الله ، اللهم افتح لى أبواب رحمتك
c. Apabila melihat Ka’bah, mengangkat kedua tangannya seraya berdoa :
اللهم زد هذا البيت تشريفا وتعظيما وتكريما ومهابة وبرا ، وزد من شرفه وكرمه ممن حجه أو اعتمره تشريفا وتعظيما وتكريما ومهابة وبرا.

4. Menuju tempat thawaf dan melakukan THAWAF tujuh putaran :
a. Menyelempangkan pakaian ihram bagian atas sehingga terlihat ketiak lengan kanan,
b. Menuju hajar aswad, menciumnya jika memungkinkan, atau menyentuhnya atau sekedar mengisyaratkan dengan tangan sebagai tanda dimulainya thawaf dengan niat dan membaca : Bismillah Allahu Akbar …,
c. Memposisikan Ka’bah berada di sebelah kiri ketika mengelilinginya,
d. Berlari-lari kecil di tiga putaran pertama, jika ia melaksanakan Thawaf Qudum (haji tamatu’),
e. Selama mengelilingi ka’bah membaca doa, zikir atau shalawat hingga sampai ke sudut Yamani dan membaca doa :
ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
f. Pada thawaf putaran ke empat dan selanjutnya, berjalan dengan tenang tidak berlari-lari kecil.
g. Setelah selesai thawaf, berdoa di Multazam (tempat antara pintu ka’bah dan hajar aswad),
h. Selesai berdoa, shalat sunnah dua raka’at di belakang maqam Ibrahim dengan membaca surat al-Kafirun pada raka’at pertama dan surat al-Ikhlas pada raka’at kedua,
i. Selesai shalat, minum air zamzam sekenyang-kenyangnya seraya membaca doa :
اللهم أنى أسألك علما نافعا ورزقا واسعا وشفاء من كل داء

5. Menuju tempat sa’i dan melakukan SA’I tujuh putaran antara Shafa dan Marwah :
a. Ketika menuju bukit Shafa, membaca firman Allah Ta’ala :
إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا حناح عليه أن يطوف بهما ومن تطوع خيرا فإن الله شاكر عليم
b. Naik ke bukit Shafa, menghadap kiblat dan berdoa :
الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، له الملك وله الحمد ، وهو على كل شيء قدير ، لا إله إلا الله وحده ، صدق وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده
c. Turun dan berjalan dengan tenang menuju bukit Marwah dengan melantunkan berbagai doa dan zikir serta shalawat, hingga sampai di isyarat lampu hijau pertama berlari-lari kecil sampai isyarat lampu hijau kedua seraya berdoa :
ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
d. Setelah itu berjalan seperti biasa hingga sampai ke bukit Marwah dan menaikinya seraya berdoa :
الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، له الملك وله الحمد ، وهو على كل شيء قدير ، لا إله إلا الله وحده ، صدق وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده
e. Sampai di sini baru satu putaran, kemudian turun dan berjalan tenang menuju bukit Shafa dengan melantunkan doa dan zikir serta shalawat, hingga sampai di isyarat lampu hijau pertama berlari-lari kecil sampai isyarat lampu hijau kedua seraya berdoa :
ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
f. Sampai di bukit Shafa sudah dua putaran, kemudian berdoa sebagaimana doa di bukit Shafa dan berjalan kembali sebagaimana putaran pertama dan kedua dengan memperbanyak doa, zikir dan shalawat.
g. Putaran sa’i sebanyak tujuh kali. Dimulai dari bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwah.
h. Bagi yang melakukan Haji Tamattu’ atau Umrah, diselesaikan dengan TAHALLUL. Yaitu menggunting sebagian atau keseluruhan rambutnya. Setelah itu ia bebas memakai pakaian biasa hingga hari ke-8 (Tarwiyah).
i. Bagi yang melakukan Haji Ifrad atau Qiran, belum boleh tahallul dan TETAP memakai pakaian ihram hingga selesai WUKUF di Arafah pada hari ke-9 dan melontar Jumroh Aqabah pada hari ke-10 Dzul Hijjah.

6. Hari ke-8 Dzul Hijjah (Tarwiyah), bersiap berangkat menuju MINA dengan memakai pakaian IHRAM.
a. Sebelum berniat Haji, seseorang melakukan adab-adab sebagaimana disebutkan di atas,
b. Setelah berpakaian ihram, shalat dua raka’at kemudian niat HAJI, bagi yang haji Tamattu’
 لبيك اللهم حجا . Bagi yang haji Ifrad dan Qiran tidak perlu niat lagi karena masih memakai pakaian ihram di awal,
c. Berangkat menuju MINA pada waktu dhuha dengan mengumandangkan talbiyah, sehingga ia melakukan shalat wajib lima waktu (Dzuhur, Asar, Maghrib, Isya dan Subuh hari ke-9) di Mina,
d. Dikarenakan mengambil hari ke-8 (Tarwiyah) di Mina termasuk dalam SUNNAH haji, seorang calon haji boleh meninggalkannya dan langsung menuju Arafah, sebagai persiapan dalam wukuf keesokan harinya.

7. Hari ke-9 Dzul Hijjah (Arafah), bersiap berangkat menuju Arafah dari Mina.
a. Berangkat setelah terbit matahari dengan melantunkan talbiyah menuju masjid Namirah, kalau memungkinkan. Masjid ini berada di perbatasan Arafah. Atau bisa langsung masuk ke padang Arafah, tenda tempat calon haji berada,
b. Sebelum masuk waktu Dzuhur, biasanya ada khutbah wukuf. Disampaikan oleh pimpinan rombongan atau jama’ah, hingga waktu Dzuhur masuk,
c. Shalat Dzuhur dan Asar dilakukan secara berjama’ah dan dijama’ taqdim dan qashar,
d. Waktu WUKUF adalah setelah Dzuhur hingga terbenam matahari (masuk waktu maghrib), bertempat di padang ARAFAH. Inilah PUNCAK HAJI. Kalau ini tidak dilaksanakan maka orang tersebut belum melakukan ibadah haji.
e. Amalan yang dilakukan ketika wukuf: talbiyah, tasbih, tahlil, tahmid, doa, shalawat, istighfar, tilawah, dan bacaan dzikir lainnya.
f. Setelah matahari terbenam dan hari sudah memasuki waktu malam, bersiap melakukan perjalanan menuju ke Muzdalifah.

8. Malam ke-10 Dzul Hijjah (bermalam di Muzdalifah).
a. Keluar dari Arafah menuju Muzdalifah tidak melalui jalan yang sama ketika berangkat menuju Arafah, tapi melalui jalan yang lain,
b. Melakukan Shalat Maghrib dan Isya secara berjama’ah di Muzdalifah (jama’ ta’khir),
c. Bermalam di Muzdalifah (biasanya tanpa tenda) hingga datangnya fajar hari ke-10.
d. Amalan yang dilakukan di Muzdalifah: talbiyah, tasbih, tahlil, doa, shalawat, istighfar, tilawah, mencari batu kerikil untuk melontar jumroh (sebanyak minimal 7 butir atau 49 butir atau 70 butir).

9. Hari ke-10 Dzul Hijjah (Mina), bersiap menuju Mina dari Muzdalifah.
a. Setelah Shalat Subuh dan sebelum matahari terbit, bersiap keluar menuju Mina sambil mengumandangkan talbiyah secara terus menerus,
b. Sesampainya di Mina, langsung menuju Jumroh AQABAH untuk melontar 7 (tujuh) batu kerikil,
c. Tempat Jumroh Aqabah terletak di tempat yang paling jauh (tempat ke tiga setelah Jumroh Ula dan Wustha) atau tempat yang paling dekat dengan kota Makkah,
d. Melontar dengan cara mengangkat tangan kanan seraya membaca: Bismillah Allahu Akbar, lemparlah batu kerikil satu kali. Kemudian batu kerikil kedua dan selanjutnya (satu per satu) hingga habis tujuh kerikil dengan bacaan yang sama, Bismillah Allahu Akbar,
e. Ketika melontar, diusahakan kota Mina berada di sisi kanan dan kota Makkah berada di sisi kiri,
f. Setelah urusan melontar Jumroh Aqabah selesai, kemudian melakukan PENYEMBELIHAN hewan qurban apabila tersedia dan memungkinkan dilaksanakan. Atau boleh diwakilkan kepada orang lain apabila tidak mampu melakukannya. Tempat penyembelihan masih tetap di Mina.
g. Setelah penyembelihan selesai (atau cukup diwakili), kemudian TAHALLUL (menggunting rambut). Boleh gundul atau sebagian rambut saja, gundul lebih utama.
h. Setelah Tahallul dilaksanakan, sudah boleh mengganti pakaian ihram dengan baju biasa. Artinya, selama pelaksanaan haji dari hari ke-8 (Tarwiyah) dan ke-9 (Arafah) hingga hari ke-10 (Mina) sampai melontar Jumroh Aqabah masih tetap memakai pakaian ihram. Selepas Tahallul, baru boleh memakai pakaian biasa. Ini yang dinamakan Tahallul Kecil, diperbolehkan semua kecuali menggauli istri.
i. Kalau memungkinkan dan masih di hari ke-10, pergi ke Makkah dan melakukan THAWAF IFADHAH, dilanjutkan dengan SAI (bagi yang melakukan Haji Tamattu’). Pelaksanaan Thawaf Ifadhah juga bisa dilaksanakan di hari lain.
j. Apabila Thawaf Ifadhah dan Sa’I telah dilakukan, maka ia telah bertahallul besar. Tidak ada lagi larangan baginya, termasuk menggauli istri.
k. Jadi, amalan yang dilakukan pada hari ke-10: Melontar Jumroh Aqabah, Menyembelih hewan qurban, Tahallul dan Thawaf Ifadhah.

10. Hari ke-11 Dzul Hijjah (Tasyrik hari pertama), mabit di Mina.
a. Semua amalan haji pada hari ini dan selanjutnya sudah memakai pakaian biasa.
b. Amalan haji pada hari ini adalah melontar Jumroh Ula dengan 7 (tujuh) kerikil satu per satu, kemudian Jumroh Wustho dengan 7 (tujuh) kerikil lainnya satu per satu, dan Jumroh Aqabah dengan 7 (tujuh) kerikil lainnya satu per satu. Keseluruhan kerikil yang dipersiapkan hari ini ada 21 (dua puluh satu) kerikil,
c. Setiap lontaran membaca : Bismillah Allahu Akbar…
d. Selesai melontar Jumroh Ula, berdoa dengan menghadap ke arah kiblat. Begitu pula selesai melontar Jumroh Wustho, berdoa menghadap kiblat. Akan tetapi pada lontaran di Jumroh Aqabah, tidak ada doa setelah melontar.
e. Pada hari ini kegiatan berpusat di Mina, hingga mabit (bermalam).
f. Waktu melontar diutamakan pada siang hari. Ada yang berpendapat boleh malam hari.

11. Hari ke-12 Dzul Hijjah (Tasyrik hari ke dua), tetap mabit di Mina.
a. Pada hari ini, semua amalan sama dengan hari sebelumnya yaitu melontar Jumroh Ula, Jumroh Wustho dan Jumroh Aqabah. Masing-masing 7 (tujuh) kerikil sehingga kerikil yang disiapkan berjumlah 21 (dua puluh satu) kerikil.
b. Bagi yang ingin mempercepat meninggalkan Mina, boleh baginya mabit dua hari saja di Mina (Nafar Awal). Dengan syarat, ia harus meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam di hari ke-12. Apabila sampai matahari terbenam masih berada di Mina maka ia menggenapkan mabit di Mina selama tiga hari (Nafar Tsani). Kedua-duanya diperbolehkan (QS. Al-Baqarah: 203).
c. Jumlah kerikil yang dipersiapkan bagi orang yang mengambil Nafar Awal sebanyak 49 (empat puluh sembilan) kerikil. Dengan perincian: 7 (tujuh) kerikil untuk hari ke-10 (Jumroh Aqabah saja), 21 (dua puluh satu) kerikil untuk hari ke-11 (Jumroh Ula, Wustha dan Aqabah), 21 (dua puluh satu) kerikil untuk hari ke-12 (Jumroh Ula, Wustha dan Aqabah).

12. Hari ke-13 Dzul Hijjah (Tasyrik hari ke tiga), bagi haji yang mengambil Nafar Tsani.
a. Aktifitas hari ini juga melontar Jumroh Ula, Jumroh Wustho dan Jumroh Aqabah dengan tata cara sebagaimana di atas. 7 (tujuh) kerikil setiap Jumroh sehingga dibutuhkan 21 (dua puluh satu) kerikil dalam melontar hari ini.
b. Jumlah kerikil yang dipersiapkan bagi orang yang mengambil Nafar Tsani sebanyak 70 (tujuh puluh) kerikil. Dengan perincian: 49 (empat puluh sembilan) kerikil sebelumnya ditambah 21 (dua puluh satu) kerikil untuk hari ke-13 (Jumroh Ula, Wustha dan Aqabah).

13. Apabila berkeinginan pergi meninggalkan kota Makkah karena kembali ke tanah air atau ke negara lain yang akan dimaksud atau menuju kota Madinah, maka jama’ah haji melakukan THAWAF WADA’ (Thawaf Perpisahan) di Ka’bah.
a. Thawaf Wada’ sebanyak tujuh kali putaran tanpa Sa’i,
b. Setelah Thawaf, shalat dua raka’at di belakang maqam Ibrahim.
c. Setelah itu langsung berangkat ke tempat tujuan yang dimaksud seraya membaca :
لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير. آيبون تائبون عابدون لربنا راغبون. لا إله إلا الله وحده ، صدق وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *