Lima Spirit Dari Perang Badar Oleh Triwisaksana

Spread the love

bang sani

Assalamu’alaikum wr. wb

Dalam kesempatan hari ini, dalam  rakorda Jakarta selatan ini saya akan menyampaikannya perspektif dakwah dari perang badar. Karena diantara sekian banyak peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, perang yang sangat fenomenal itu adalah perang badar.

Ikhwah sekalian, saya ingin kita mengambil pelajaran dari apa yang dilakukan oleh Rasul dan para sahabatnya pada perang ini, spirit atau ruh mereka harus bisa kita terapkan dalam menegakan kalimat dakwah ini pada saat sekarang ini maupun yang akan datang.

Saya me-list ada lima pelajaran dalam perang badar ini yang perlu kita ambil spiritnya dalam untuk bisa diterapkan di perjuangan kita ke depan.

Pertama adalah Check Soliditas dan Motivasi Internal (Kader)

Pelajaran pertama yang kita lihat dari perang badar ini untuk bisa kita terapkan dalam spirit perjuangan kita sekarang adalah kita sebagai pemimpin layak untuk mengecek soliditas dan motivasi internal kita. Di dalam perang badar, yang dilakukan oleh Rasulullah SAW menjelang terjadinya perang tersebut, adalah apa yang disebut dalam buku sirah sebagai majelis permusyawaratan.

Dalam situasi genting ini ikhwah sekalian, Rasul mengumpulkan semua pasukan pada waktu itu dari para sahbat – sahabatnya, kemudian Rasulullah bertanya pada mereka setelah menjelaskan situasi yang ada. Pada saat itu berbicaralah tokoh – tokoh dakwah, seperti Abu Bakar, Umar, Miqdad dan seterusnya. Pada intinya para sahabat Rasulullah itu mengatakan maju terus, we are supporting you. “Kita tidak ingin mengatakan seperti Bani Israel yang mengatakan kepada  Nabi Musa, berperanglah Anda dengan Tuhan Anda, kami menunggu di sini.” Tetapi berperanglah Anda dengan Tuhan Anda, dan kami semua ikut bersama dengan Anda.

Tetapi Rasulullah SAW, saat itu tampaknya masih belum puas dari ungkapan para tokoh-tokoh yang ada saat itu, karena yang mengungkapkan baru dari kalangan Muhajirin, baru dari satu kelompok kaum muslimin saat itu. Rasanya seperti ada yang sedang beliau tunggu, tetapi beliau tidak mau berkata langsung …  Beliau hanya bilang, “Silahkan sampaikan, Silahkan bicara .. semua orang silahkan bicara.” Kala itu diam semua orang, sampai akhirnya ada seorang tokoh dari kalangan Anshar mengatakan, “Tampakanya kamilah yang anda tunggu untuk bicara” … Benar, kata Rasulullah, barulah  kemudian Tokoh Anshar bicara.

Kenapa ikhwah sekalian, Rasulullah ini menungu orang Anshar untuk bicara, sebab kaum Anshar itu terikat perjanjian dengan Rasulullah untuk membela Rasulullah dan kaum Muhajirin itu di wilayah Madinah. Sementara perang berlangsung di Badar, di luar kota Madinah.  Tetapi apa kata  Saad bin Muadz, komandan atau tokoh atau elit orang Anshar pada waktu itu, “Kami semua telah beriman kepada Anda, kami tidak akan mundur, … kami ikut bersama anda.” Baru kemudian Rasulullah merasa qonaah.

Ihwah sekalian, beliau ini Rasulullah SAW adalah pemimpin .. tetapi beliau perlu untuk mengecek soliditas dan juga motivasi dari kader – kadernya. Kalau beliau mau, beliau akan mudah mengatakan, “Wahai Anshar berdiri dan berperanglah lawan orang – orang Quraisy itu … tetapi Beliau tidak lakukan dan Beliau juga tidak melakukan pertanyaan langsung yang ditujukan kepada orang – orang Anshar, Beliau tidak mengatakan “Wahai anshar bicaralah” .. tetapi Beliau hanya mengatkan, “Bicaralah semua orang,” baru kemudian dengan kasadarannya Saad bin Muadz mewakili Anshar bicara.

Inilah ikhwah sekalian yang disebut dengan kesadaran internal dari kader – kader untuk berjuang atas resiko sendiri. Jadi kalau Rasulullah mengatakan bangkit dan berperang itu bisa saja dilakukan, namun beliau tidak lakukan itu, dan orang – orang Anshar juga dengan kesadaran sendiri mengatakan bahwa mereka ikut bersama Rasulullah. Jadi ikhwah sekalian mengecek kesadaran dan motivasi kader untuk maju berjuang itu penting dilakukan oleh pemimpin, itu pelajaran yang pertama.

Kalau Rasulullah mau, menggunakan posisinya sebagai pimpinan pada saat itu. “Anshar bangkit .. dan berperanglah” tetapi hal ini beliau tidak lakukan. Yang Beliau lakukan adalah menumbuhkan kesadaran internal. Karena pemimpin itu perlu membuktikan kontribusinya terlebih dahulu bahkan prestasinya, bukan posisinya dahulu.

Seperti kita ini, sebagai orang tua … anak – anak kita menghormati kita, karena kita menyayangi mereka, karena kita menafkahi mereka, karena kita melindungi mereka. Ketika kita datang, mereka menyalami tangan kita. Laki – laki disayang dan dihormati sama istri nya, juga begitu, karena kita menyanyangi mereka, menafkahi mereka, dan melindungi mereka, .. coba apa yang terjadi kalau sebaliknya.

Kedua adalah Memetakan Kekuatan

Perang badar ini terjadi pada tahun 2 hijriah, tapi ayat yang mengijinkan Rasulullah dan sahabat untuk perang itu turun setahun sebelumnya,  yaitu dalam surat Al Hajj ayat 39 … udzina lilladziina yuqaataluuna bi-annahum zhulimuu, “telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang didzalimi.”

Yang dilakukan oleh Rasulullah saat itu adalah apa yang tadi kita sebutkan tadi, yakni memetakan kekuatan lawan, beliau melakukan dua hal, atau dua program :

Pertama mengirim tim ekspedisi keluar Madinah, targetnya mengetahui peta situasi dan peta wilayah. Oleh karenanya dari situ lahirlah program selanjutnya menjalin koalisi atau kerja sama dengan kekuatan lain. Beliau petakan dulu di wilayah, beliau tahu persis …. 12 tim Rasulullah utus untuk mengecek situasi.

Dan yang kedua, kemudian menjelang terjadinya perang badar, Rasulullah membuat apa yang disebut tim intelijen. Dari informasi tim intelijen ini, diketahuilah  jumlah pasukan Quraisy, siapa – siapa saja tokohnya yang ikut, posisinya pasukan Quraisy dimana juga mengetahuinya. Lokasi tahu, jumlah tahu, tokoh tokohnya pemimpinnya tahu .. semua tahu. Peta kekuatan lawan Rasulullah mengetahui.

Ketiga adalah Jalin Koalisi dengan Kekuatan Lainnya

Karena Rasulullah tahu bahwa kekuatan beliau dengan musuh tidak seimbang. Di sini tiga ratusan di sana seribuan. Makanya beliau mengeluarkan instruksi jalin koalisi. Yang pertama dengan kaum yahudi yang kedua dengan suku duhaika. Dua – duanya bukan kaum muslimin. Tapi kemudian yahudi ini berkhianat dalam perang tabuk dan khaibar. Jadi terlihat koalisinya itu, koalisi kepentingan, bukan koalisi ideologis.

Keempat adalah Galang Sumber Daya Internal dan Eksternal

Ketika sumber daya internal kita terbatas, apa yang diajarkan Rasulllah SAW dalam perang badar. Pertama beliau menghambat sumber pendanaan orang – orang Quraisy. Kedua beliau merebut. Perang badar ini diawali dari niat untuk merebut kafilah dagangnya Abu Sofyan, Dari Mekkah ke Syam lewat tidak berhasil dicegat, begitu dari Syam kembali berdagang ke mekkah lagi, beliau mau cegat. Kafilah Abu sofyan ini membawa sekitar seribu ekor unta dengan semua barang dagannnya senilai lima puluh ribu dinar emas.

Kelima adalah Berserah Diri Kepada Pertolongan Allah SWT  

Menjelang perang Rasullah Saw melakukan istighosah, pada malam 17 ramadhan 2 Hijriah, paginya begitu pasukan maju … Rasulullah istighosah lagi, ketika berkecamuk perang juga istighosah lagi. Dalam surat Al Anfal ayat 9 disebutkan.. idz tastaghiitsuuna rabbakum faastajaaba lakum annii mumiddukum bialfin minal malaa-ikati murdifiin, “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala-bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”

Jadi berserah diri kepada pertolongan Allah itu penting tetapi syarat-syarat kemenangan itu dilakukan terlebih dahulu. Setelah semua kita lakukan istighosahlah  pada hari- hari menjelang pertarungan. insyaAllah Allah akan kirimkan malaikat.

Kemudian juga pada perang badar kan kiblat sholat digeser dari baitul maqdis bergeser ke baitullah ka’bah.. inikan isyarat dari Allah,  Mau sholat mengahadap baitullah ka’bah tapi ka’bah nya masih dikuasai oleh orang- orang musyrik.

Kemudian pada Ramadhan tahun 2 Hijriah adalah awal disyariatkannnya berpuasa, semua itu adalah isyarat ikhwah sekalian. Bahwa kedekatan kita dengan Allah SWT itu adalah syarat mutlak menutup semua ikhtiar kita untuk menang.

Wassalamu’alaikum wr. wb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *