Keutamaan – Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Spread the love
ustadz salman al farisi 2
Oleh Ustadz Salman Al Farisi Sekretaris DSD PKS Jaksel

 

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram… (QS. At-Taubah-9: 36)

Allah Ta’ala telah menjadikan bilangan bulan berjumlah dua belas, empat diantaranya adalah bulan haram. Keempat bulan haram itu, tiga diantaranya berturut-turut yaitu Dzul-Qo’dah, Dzul-Hijjah, Muharram dan satu terpisah yaitu Rajab, sebagaimana tertera dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Bukhari dengan sanadnya dari sahabat Abi Bakrah radliyallahu ‘anhu.

Keempat bulan ini mempunyai keistimewaan dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana Allah menjadikan kota Makkah dan Madinah lebih mulia dari kota-kota lainnya. Hari Jum’at lebih agung dari hari lainnya. Seseorang yang melakukan ketaatan di dalamnya akan mendapatkan ganjaran lebih besar dari bulan lainnya, begitu pula sebaliknya. Seseorang yang melakukan kemaksiatan, dosanya lebih besar pula dari bulan lainnya. Bahkan di bulan haram tersebut dilarang melakukan pertumpahan darah. Kita bisa melihat detailnya pada Surat Al-Baqarah: 217. Hal ini telah menjadi syariat para rasul umat-umat terdahulu.

Kemudian Allah Ta’ala menerangkan salah satu bulan haram tersebut dalam firmannya:

وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ …

Artinya: “Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang…” (QS. Al-Baqarah: 203)

…وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ …

Artinya: “…dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (QS. Al-Hajj: 28)

وَالْفَجْر وَلَيَالٍ عَشْرٍ …

Artinya: “Demi waktu fajr dan malam yang sepuluh…” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Imam Syafi’i mengatakan bahwa أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ (QS. Al-Hajj: 28) berarti sepuluh hari pertama bulan Dzul-Hijjah, dan أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ (QS. Al-Baqarah: 203) berarti tiga hari setelah hari qurban (hari tasyriq/11-13 Dzul-Hijjah). Beberapa ahli tafsir juga mengatakan bahwa maksud dari malam yang sepuluh (وَلَيَالٍ عَشْرٍ) pada ayat ke dua surat Al-Fajr adalah sepuluh hari pertama bulan Dzul-Hijjah.

Ini menerangkan bahwa awal-awal bulan Dzul-Hijjah begitu sangat mulia di sisi Allah sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ اِلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ , يَعْنِى أَيَّامَ العَشْرِ . قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ , وَلاَ الجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ : وَلاَ الجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَ مَالِهِ ثُمَّ لمَ ْيَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ (رواه الجماعة إلا مسلما و النسائى عن ابن عباس رضي الله عنهما)

Artinya: “Tiada suatu hari dimana seorang beramal shalih di dalamnya lebih disukai Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari awal bulan Dzul-Hijjah”. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, walaupun jihad di jalan Allah? Jawab Rasul: “Walaupun jihad di jalan Allah, terkecuali jika seorang keluar dengan jiwanya dan membawa semua hartanya serta tidak kembali dengan apa-apa” (HR. Jama’ah kecuali Muslim dan Nasa’i dari sahabat Abdullah bin Abbas radliyallahu ‘anhuma).

Dr. Wahbah Zuhaili mengomentari hadits di atas dalam kitabnya Al-Fiqhu Al-Islami Wa Adillatuhu dan berkata: Lebih disukai pada sepuluh hari pertama bulan Dzul-Hijjah, ketika menyongsong hari raya Iedul Adha, untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik. Diantaranya dzikir kepada Allah, puasa, infak shadaqah, dan amalan-amalan baik lainnya. Karena hari-hari tersebut adalah afdhalul ayyam (hari-hari yang paling baik).

Berkaitan dengan puasa, Hafshah, istri Rasul berkata: “Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Puasa hari ‘Asyuro (10 Muharram); Puasa sepuluh hari pertama Dzul-Hijjah; Puasa tiga hari setiap bulannya; dan Dua raka’at sebelum fajar” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).

Terlebih lagi puasa pada hari ke-9 (Hari Arafah) bagi orang yang tidak pergi haji. Sabda Rasul: “Puasa Arafah menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang” (HR. Muslim). Hari Arafah adalah sebaik-baik hari, sebagaimana sabda Rasul: “Tidak ada hari dimana Allah lebih banyak membebaskan hambanya dari api neraka daripada hari Arafah” (HR. Muslim).

Untuk hari ke-10 tidak diperbolehkan untuk berpuasa karena itu adalah hari Ied (yaumun nahri). Justru amalah yang paling baik dilakukan pada hari ke sepuluh adalah menyembelih hewan kurban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada perbuatan bani Adam pada hari ini (10 Dzul-Hijjah) yang lebih baik dari menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat (lengkap) dengan tanduknya, kuku-kukunya, bulu-bulunya. Dan darahnya (ketika disembelih) akan ditampung oleh Allah di suatu tempat sebelum jatuh ke muka bumi. Maka bersihkanlah diri kalian dengan berkurban” (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi dan beliau menghasankan hadits ini).

Dalam riwayat lain diceritakan, para sahabat bertanya tentang hewan kurban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hal tersebut adalah sunnah Bapak kalian, Nabi Ibrahim alaihissalam. Para sahabat bertanya: Apa yang kami dapatkan dari berkurban itu? Rasul menjawab: Pada setiap bulunya satu kebaikan. Mereka bertanya lagi: Apa bulu domba juga termasuk? Rasul menjawab: Pada setiap bulu domba satu kebaikan” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Diantara hikmah disyari’atkannya menyembelih hewan kurban adalah kita bisa mendekatkan diri kepada Allah dengannya. Karena Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berkurban dalam firmannya:

فصل لربك وانحر

Artinya: “Maka kerjakanlah shalat lalu berkurbanlah”. (QS. Al-Kautsar: 2)

قل إن صلاتى ونسكى ومحياي ومماتى لله رب العالمين . لا شريك له

Artinya: “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya…” (QS. Al-An’am: 162).

Hikmah lainnya adalah kita menghidupi sunnah Nabi Ibrahim alaihissalam. Karena perintah syariat berkurban dikisahkan datang dari Ibrahim. Allah telah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail alaihissalam. Lalu Allah menggantinya dengan kambing kibsah. Allah berfirman: “Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.[1] (QS. Ash-Shaffat: 107)

Hikmah lainnya dari kita berkurban adalah kita termasuk hamba-hamba Allah yang selalu mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Karena Allah memberikan hewan-hewan ternak untuk dapat kita manfaatkan sebagai bahan makanan kita, dan ini wajib kita syukuri bersama. Terlebih bagi mereka yang diberikan Allah rezki yang banyak dan mampu untuk berkurban serta memberikan daging-daging kurban kepada kaum fakir dan miskin. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Telah kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan Telah terikat). Kemudian apabila Telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah kami Telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah Telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj: 36-37).

Inilah beberapa keutamaan amalan-amalan di awal-awal bulan Dzul-Hijjah yang akan kita sambut bersama. Sebisa mungkin kita bisa melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah kepada kita. Semoga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang bersyukur karena nikmat-nikmat-Nya. Amin.

 

[1] sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. Maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). peristiwa Ini menjadi dasar disyariatkannya qurban yang dilakukan pada hari raya haji.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *