Ketua Kaderisasi PKS Jaksel : Kader – Kader PKS, Marilah Mencontoh Burung Hud-hud

Spread the love
ust adam kaderisasi pks jaksel
Ustad Adam, Ketua Kaderisasi PKS Jaksel

Di antara kisah dan kejadian unik yang ditayangkan dalam Alquran adalah kisah burung Hud-hud dengan Nabi Sulaiman as. Seekor burung hud-hud yang melakukan kerja tanpa ada perintah terlebih dahulu. Ia mengintai suatu aktivitas suatu kaum yang dengan sebab kabar itulah, segolongan umat mendapat hidayah Allah, masuk ke dalam agama Islam.

Tindakan burung Hud-hud janganlah dijadikan dalil untuk lepas kontrol, tetapi harus dipahami dengan positif bahwa yang dilakukan burung Hud-hud merupakan tindakan memanfaatkan peluang untuk menjalankan misi.

Burung Hud-hud tidak keluar dari tujuan pemimpinnya, juga tidak melanggar prinsip-prinsip umum atau mengabaikan perintah lainnya yang lebih utama, tetapi kisah tersebut menunjukkan bahwa pada diri kader terdapat ciri selalu sadar akan misi, teliti dalam beramal dan semangat untuk menyadarkan kaum.

Kecerdasan dan kecemerlangan berfikir burung Hud-hud tersebut telah ia manfaatkan untuk mengambil kesempatan untuk mencari berita dan kabar suatu kaum karena ia berkeinginan untuk menyampaikan risalah Islam kepada mereka, mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah diserta dengan tindakan yang bijak, presentasi yang gemilang serta keberanian dalam mengemukakan alasan.

Dengan kerja yang kelihatannya kecil, hanya sekadar mengetahui keadaan dan kondisi keagamaan suatu kaum, dapat menghasilkan prestasi besar, yaitu keislaman Ratu dan rakyatnya, tunduk untuk beribadah kepada Allah bersama nabi Sulaiman a.s. Di antara sikap positif adalah tidak meremehkan perkara kecil, karena seringkali sesuatu yang besar menjadi kecil nilainya karena niat yang kurang ikhlas dan kadang beberapa kalimat akan mendatangkan kebaikan yang besar karena niat dan keluar dari hati yang tulus.

Hud-hud yang kecil itu, tidak lagi “kecil”, karena ia telah memahami dengan baik visi, misi dan keputusan Nabiyullah Sulaiman as, bahwa ada visi ambisius, missi besar dan obsesi yang tidak boleh melemah. Hud-hud telah memahami dan menginternalisasi visi, misi dan keputusan ini, sehingga ia tidak lagi makhluk kecil yang hidupnya diawali dengan kelahirannya dan berakhir dengan kematiannya.

Hud-hud, makhluq yang kecil itu, tidak lagi “kecil”, karena ia telah menggabungkan dirinya ke dalam “jama’ah” yang membawanya kepada proyek-proyek kebaikan besar. Hud-hud, makhluq yang kecil itu, tidak lagi “kecil”, sebab, atas inisiatifnya sendiri, ia telah menempuh perjalanan di kawasan baru, kawasan yang belum dikenal sebelumnya. Hud-hud, makhluq yang kecil itu, tidak lagi “kecil”, saat ia menetapkan dan memantapkan niatnya, untuk tidak menjadi hud-hud biasa, burung biasa, atau kader biasa. Ia tidak lagi “kecil” saat bertekad bulat untuk menjadi kader yang luar biasa. Hud-hud, makhluq yang kecil itu, tidak lagi “kecil” saat ia perkokoh nyalinya untuk keluar dari zona aman, zona sebagai prajurit biasa, prajurit yang paling banter menjalankan segala titah yang diterimanya dari pimpinannya.

Dengan tekad, azam dan nyali yang luar biasa inilah, akhirnya, si hud-hud, makhluq kecil yang tidak lagi “kecil” itu, karenanya, dengan penuh keberanian, ia hadapi ancaman super berat nan hebat dari nabi Sulaiman as., dan dengan “pede habis” ia berkata: “Saya mengetahui sesuatu yang engkau – wahai nabiyullah Sulaiman as. – tidak mengetahuinya” (Q.S. an-Naml: 22).

Ya, itulah hud-hud, makhluq kecil yang tidak lagi “kecil”, ia telah menjadi “makhluq lain”, kader yang mempunyai pengetahuan lengkap nan detil tentang sebuah negeri, yang nabi Sulaiman as. belum mengetahuinya. Dan bahkan, ialah penyebab terhidayahinya ratu Bilqis; ratu Saba’ itu, bersama seluruh rakyatnya. Karenanya, si hud-hud yang ini, sekarang ini, bukan lagi kader kecil yang tetap kecil, ia telah menjadi “makhluq lain”, yang fenomenal, monumental dan abadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *