Ketika Malam – Malam, Pintu  Rumah Kader PKS Jagakarsa Diketuk Seseorang

Spread the love

kampung-muara

By Ik@*

Sabtu, pekan sebelumnya, kami telah mengadakan sharing pemberdayaan tentang berkebun kepada warga. Alhamdulillah …. lega, karena satu tahap telah terlaksana.

Namun, ada sebuah kejutan kecil tadi malam. “Seseorang mengetuk pintu rumah saya malam – malam …”

“Siapakah itu?” Kalimat itu yang muncul dalam benak saya dan mungkin juga suami.

Saat pintu dibuka, ternyata seorang Ibu separuh baya, warga “Kampung Muara” dengan wajah panik berkata, “Mbak Ika, maaf mengganggu malam – malam …. Maaf, tanaman saya kenapa ya?  Daunnya tercecer kemana – mana. Padahal sebelumnya subur – subur saja.”

“Oh, tenang Bu. Mungkin ada sesuatu yang membuat tanaman Ibu begitu,” kata saya.

“Oh iya, bisa jadi. Kaya’nya ayam nih. Ada ayam yang mungkin memakan tanamannya. Terus jadinya gimana ini mbak?” ujarnya.

“(Sambil senyum), tenang Bu. InsyaAlloh besok saya datang ke rumah Bu Nony. Saya masih punya bibit buat Ibu, insyaAllah. Nanti ibu bisa tanam kembali dan taruh di tempat yang lebih aman,” saranku kepadanya.

“Alhamdulillah, iya .. iya mbak. Sore ya. Saya adanya sore hari,” ujar Bu Nony

Terlihat senyum di wajah beliau sambil berpamitan pulang. 🙂

================================================================================================

Mungkin kader – kader PKS pemberdaya yang lain pernah mengalami hal yang sama. Bahkan mungkin kisahnya bisa lebih menarik

Namun bagi saya, kejadian itu membuat saya merenung.

“Alhamdulillah Yaa Allah … Ternyata pemberdayaan itu erat kaitannya dengan sebuah kebahagiaan seseorang.”

“Dan sebagai mediator, rasa syukur akan hal itu jauh sangat berharga. Karena semua ini terjadi bukan karena siapa kita.”

“Tapi karena Allah, yang meridhoi hati mereka tergerak dan menyambut kita, para pengemban dan penerus amanah risalah Nabi-Nya”

================================================================================================

Sungguh … melakukan pemberdayaan adalah sebuah seni tersendiri. Terkadang untuk mengubah suatu kondisi, tak mudah seperti membalikan telapak tangan.

Bahkan tantangan kerap datang menemani semangat yang sebelumnya sudah merasa terpatri.

Tidak dianggap , ditolak, berjuang sendiri … sepertinya sudah menjadi kejadian yang biasa.

Atau mungkin sudah jadi makanan sehari-hari, namun … justru di situlah, seninya.

Karena Allah sudah menjanjikan bahwa ada kemudahan bersama kesulitan tersebut.

*) Penulis adalah Salah satu Kader Pemberdaya di Komunitas Kampung Muara Jakarta Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *