Ketemu Aleg PKS di Acara Maulid Warga Rawajati

Spread the love

6b241ff3-adcc-49de-b06e-406bfce0f282

Peringatan Maulid Nabi dirayakan oleh seluruh Umat Islam di dunia sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid juga merupakan salah satu keanekaragaman budaya Islam yang ada di Negeri tercinta ini.

Anggota legislatif DPRD DKI Jakarta asal PKS Jakarta Selatan, Drs Ahmad Yani menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 Hijriah yang diadakan oleh Majelis Taklim Al Barakah pimpinan Hj. Nju Rawajati pada hari Kamis (7/1) pagi kemarin. Acara Maulid ini, dihadiri ratusan orang, khususnya ibu – ibu. Maulid adalah agenda rutin yang diselenggarakan setiap tahun oleh Majelis Taklim Al Barakah ini. Antusias masyarakat Rawajati terhadap peringatan Maulid Nabi ditunjukan dengan ramainya hadirin yang memadati acara tersebut.

Aleg PKS, Drs. Ahmad Yani dalam sambutannya berpesan kepada jamaah bahwa, “Wajib menjadikan Rasulullah sebagai tauladan ummat, bukan pihak lain. Tauladan itu salah satunya mencoba mengikuti segala kehidupan Rasulullah bersama keluarganya. Bagaimana Rasulullah begitu memperhatikan rasa kasih sayangnya dalam kehidupan rumah tanganya. Dengan mencontoh dan meneladani Rasulullah SAW, di akhirat kelak kita akan bersama dengan manusia yang sangat kita cintai, yakni Rasulullah SAW.”  Selain itu Bang Yani, dalam sapaan akrabnya juga mengatakan bahwa Beliau kangen ketemu dengan masyarakat Rawajati yang merupakan salah satu konstituen daerah pemilihannya.

Maraknya kembali syiar Maulid di berbagai wilayah oleh berbagai lapisan masyarakat, merupakan angin segar di tengah semakin deras dan gencarnya budaya impor dengan berbagai macam model variannya. Kita perlu filter untuk menyaring gaya hidup hedonis dan pragmatis yang sedang mengalir di tengah-tengah masyarakat.  Tradisi Maulid Nabi SAW merupakan tradisi mempelajari sejarah Nabi SAW untuk kemudian kita diteladani bersama. Tradisi Maulid merupakan tradisi mengekspresikan rasa syukur dan mengucapkan terima kasih. Kita diajari dan diajak untuk bersyukur dan berterima kasih kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila tradisi yang mulia tersebut tidak dilestarikan, maka bisa jadi anak cucu kita di kelak kemudian hari tidak akan mengenal Nabi SAW, atau dalam istilah jawa dikenal dengan istilah ‘kepaten obor’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *