Hidayat Nur Wahid: Indonesia Darurat Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Spread the love

Hidayat-Nur-Wahid1

Sekitar dua ratus peserta terdiri dari mahasiswa, pelajar SMA dan tokoh masyarakat daerah Jambi berkumpul untuk mengikuti Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang terselenggara atas kerjasama MPR RI dengan Forum Peduli Remaja Jambi (FPRJ), Selasa (3/5).

Dalam acara yang digelar di aula Mayang Mangurai, Gedung Bappeda, Provinsi Jambi itu, hadir Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid dan anggota MPR, Mustafa Kamal (Fraksi PKS). Sedangkan Wakil Gubernur Jambi, H. Fachrori Umar, datang dan memberi sambutan mewakili Gubernur.

Fachrori menduga, peserta sosialisasi yang mayoritas para remaja, belum mengatahui apa substansi Empat Pilar (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika). Karena itulah program MPR itu dianggap sangat penting untuk menggali potensi para remaja sekaligus mengarahkan mereka untuk lebih mencintai kebudayaan Jambi.

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, dalam pemaparannya mengatakan bahwa MPR tidak mungkin sendirian dalam melakukan sosialisasi sebab jumlah anggota MPR terbatas. Apalagi anggota MPR disibukkan aktivitas di DPR dan DPD RI.

Hidayat Nur Wahid mengungkapkan,sosialisasi Empat Pilar telah dilakukan sejak dirinya menjabat Ketua MPR periode 2004-2009. Pada saat itu dirinya mengharap agar pemerintah mengambil peran yang besar. Sebab jaring-jaring kekuasaan pemerintah mencapai daerah dan RT/RW, serta ditunjang anggaran yang besar.

Dalam kesempatan itu Hidayat Nur Wahid juga mengungkapkan bahwa bangsa ini mengalami kondisi darurat, dalam hal kekerasan terhadap perempuan dan kejahatan terhadap anak di bawah umur.

Hidayat khusus menyorot peristiwa seorang mahasiswa membunuh dosennya di Medan, kematian mahasiswi di Universitas Gajah Mada, dan lebih menyedihkan lagi tragedi pemerkosaan dan penyiksaan oleh 14  orang remaja dan pemuda di Bengkulu terhadap gadis remaja bernama Yuyun hingga mengakibatkan kematian.

Ia mengajak semua elemen bangsa belajar dari para pahlawan dan pendiri bangsa Indonesia yang mengajarkan mencintai bangsa sendiri. Apalagi Jambi memiliki seorang pahlawan besar, yakni Sultan Thaha. Menyelamatkan bangsa dari berbagai masalah buruk merupakan cita-cita pendiri bangsa.

“Perlu kita menginternalisasikan Pancasila agar masyarakat tidak melakukan kejahatan dan peristiwa menyedihkan,” ajak Nur Wahid.

Sumber : RakyatMerdeka/3 Mei 2016/Bunaiya Fauzi Arubone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *