Artikel [1] | Kisah [2]

Mba Yu Jamu Ayu

Dikirim oleh : ningsih pada 06 Jan 2010 - 06:28

PKS Jaksel : Jamu… jamu… suara lembut milik mba jamu itu terdengar jelas dari jendela kayu rumahku. Meski tak terdengar lantang seperti suara tukang donat atau tukang lontong yang kerap lewat depan rumahku, namun suara khas berlogat jawa itu mampu terdengar hingga ke telingaku. Aku pun bergegas ke luar menemui Mba Yu jamu.

“Jamu Mba. Ada jamu buat pegel linu ngak, pinggang saya pada pegel-pegel, kebanyakan jahit,” ucapku pada si mba jamu.

“Ada Mba, sebentar ya.. tak turuni dulu bakulnya,” jawab mba jamu seraya menurunkan bakul yang sarat dengan botol-botol berisi ramuan jamu. Sementara ember berisi air dan bekas perasan jeruk nipis telah ia taruh lebih dahulu di atas teras rumahku.

Mba jamu yang berparas ayu segera mengeluarkan sebungkus jamu pegal linu dari dalam kantong plastik putih. Dirobeknya bungkus jamu secara perlahan, dituangkan ke dalam gelas dan diseduh dengan air hangat, kemudian diaduk hingga merata, tak lupa ia campurkan telur ayam kampung dan sedikit madu.

“Ini Mba jamunya, semoga cepat hilang pegel-pegelnya,” doa mba jamu sambil menyodorkan gelas berisi penuh jamu.

Dengan memencet hidung, langsung ku tenggak jamu pegel linu itu cepat-cepat. Ku tak ingin rasa pahitnya bertahan lama di lidahku.

“Minta manisnya Mba! Saya gak tahan pahitnya,”

“Gak pahit toh Mba, orang biar sehat kok takut pahit,” Mba Jamu menggurui.

Dengan cekatan ia tuang ramuan air jahe dan gula merah ke dalam gelas jamuku yang telah kosong.

“Dah hilang toh pahitnya,” tanyanya sambil sedikit tersenyum.
“Sudah Mba, tinggal getirnya aja. Oh ya Mba, jadi berapa jamunya,” tanyaku sambil menahan rasa getir di lidah.

“Biasa Mba, tiga ribu, ” jawabnya pendek seraya mencuci gelas bekas minum jamuku.

Aku keluarkan tiga lember uang kertas seribuan dan ku serahkan pada Mba jamu yang tengah membereskan peralatan jamunya.

“Sudah lama Mba dagang jamu,” tanyaku ingin tahu.

“Lama Mba, sudah dua puluh tahun,”

Dahiku mendadak berkerut mengetahu betapa telah lamanya ia menjajakan jamu gendongnya.

“Seneng ya Mba dagang jamu, buktinya bisa terus dagang sampai sebelas tahun,” tanyaku lebih lanjut.

“Yah seneng ga seneng Mba. Kalau gak dagang ya keluarga saya ga makan,” jawabnya ringan..

“Lah, memang suaminya kemana Mba,” tanyaku menyelidik.

“Suami ada Mba, tapi ya kerjanya ndak jelas, kadang kerja, kadang gak, namanya juga kerja serabutan. Makanya saya bantu-bantu dagang, buat nambah-nambah. Kalau Cuma ngandelin suami, ya repot Mba,” jawabnya panjang.

Kini tak hanya dahiku yang berkerut, otakku pun turut berkerut memikirkan nasib si Mba jamu yang tak menentu.

“Tapi anak-anak sekolahkan Mba”.

“Iya sekolah. Satu di SMP, satu di SD dan satunya masih kecil, empat tahun. Alhamdulillah sekolahnya negeri, jadi gak bayar. Tapi ya, ada aja uang ini itu, jadi ya gak gratis semua,”

“Gak usaha lain mba, kan capek jalan jauh sambil bawa-bawa bakul jamu”.

“Usaha apa, wong bisanya cuma buat jamu. Ya ndak papa lah, sedikit yang penting halal,” jawabnya.

Akh! Sederhana sekali konsep hidup mba jamu ayu ini, hanya sekeder cukup makan dan sedikit biaya untuk sekolah. Konsep hidup yang simple inilah yang membuatnya merasa selalu bahagia dan yang terpenting bisa berguna buat keluarga. Tak heran bila wajahnya masih ayu, tetap awet muda, meski usianya sudah beranjak tua.

“Apa nda kepikir punya kios Mba, kan enak ga usah keliling-keliling, jadi gak cape.”

“Ya mau punya kios, tapi sewanya kan mahal, modalnya juga harus besar. Loh wong saya aja cuma pas untuk bisa makan sama bayar kontrakan, itu juga kadang suka nunggak.Untungnya yang punya kontrakan baik, saya masih dikasih keringanan bila terlambat bayar,” jelas Mba Jamu panjang lebar

Aku hanya termangu mendengar jawaban mba jamu. Akh! Seandainya pemerintah mengucurkan modal usaha ringan kepada para pedagang kecil, mungkin mba jamu tak perlu cape-cape berkeliling keluar masuk kampung tuk jajakan jamunya. Pedagang-pedagang kecil lain seperti tukang donat, tukang lontong, tukang siomay bahkan tukang sol sepatu itu pastinnya bisa sedikit bernafas lega dan akan lebih banyak waktu yang bisa mereka sisihkan untuk keluarga.

“Sudah toh Mba. Saya pamit dulu,’ ucap mba jamu memudarkan lamunanku.

“eh iy Mba, semoga laris ya jamunya,” doaku sedikit terbata-bata.

Mba jamu pun terus melaju menyusuri gang demi gang yang berliku.

“Jamu-jamu…..” (adine)

Mba Yu Jamu Ayu | Log-in atau daftar username baru [3] | 0 Komentar
Komentar adalah pernyataan yang dibuat oleh seseorang dari postingnya.
Hal tersebut tidak harus mencerminkan opini dari situs ini.
Links
  [1] http://www.pks-jaksel.or.id/index.php?name=News&catid=1
  [2] http://www.pks-jaksel.or.id/index.php?name=News&catid=&topic=32
  [3] http://www.pks-jaksel.or.id/user.php