 Naskah Terbaru
 Sekretariat
Jl. Cilandak KKO Raya No. 17 Kelurahan Cilandak Timur
Kecamatan Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12560
Telp: +6221-780-1-870
E: redaksi[at]pks-jaksel.or.id
 User Terakhir Online
|
Artikel | Hikmah
Kamis, 15 April 2004 - 00:27 (611
Dibaca)
Nomor Urut Caleg dan Upaya Memelihara Keikhlasan (Sebuah Taushiyah)
|
|
 |
|
PK Sejahtera Jaksel: Sampai hari ini, berita tentang ungkapan ketidakpuasan dan kekecewaan soal nomor urut caleg di partai-partai masih terus saja bergulir. Sejak 29 Desember 2003 sebagai batas akhir partai peserta pemilu menyerahkan daftar calegnya ke KPU, sejak hari itulah protes yang berbuah kekecewaan, kecaman hingga pengerahan massa yang memicu api kerusuhan dan tindak brutal terjadi. Para kader 5 partai besar di daerah-daerah menyoal nomor urut caleg keputusan DPP yang mereka anggap tidak aspiratif dengan suara bawah.
Mereka kecewa lantaran tokoh-tokoh yang mereka jagokan di lapangan ternyata menempati posisi nomor sepatu alias posisi penggembira yang logikanya sulit bisa lolos ke kursi legislatif. Kita tidak tahu, pengerahan massa yang melakukan aksi protes itu murni muncul secara spontanitas dari kader partai di daerah, atau dimotivasi oleh para caleg yang mendapat nomor tidak jadi itu.
Bagaimana dengan PK Sejahtera? Segala puji hanya milik Allah SWT, hingga hari ini PK Sejahtera sunyi dari pergolakan yang menerpa partai-partai itu.
PK Sejahtera, bila dilihat dari raihan suara yang diperoleh hinga termasuk partai yang menduduki 6 besar pada pemilu 1999 lalu, sebenarnya juga bisa mengundang kekisruhan sebagaimana partai-partai besar lainnya. Terlebih untuk pemilu 2004 mendatang, PK Sejahtera dinilai banyak pengamat bakal mengalami peningkatan perolehan dukungan. Sekjend PK Sejahtera, M Anis Matta, pernah mengatakan ada beberapa tafsiran penyebab ribut-ribut soal caleg. Pertama, motivasi orang berpolitik adalah untuk menjadi kaya, bukan untuk beribadah. Dan kenyataan saat ini, dalam lima tahun terakhir orang kaya baru di Indonesia, lahir dari jalur politik. Kemudian penyebab lainnya adalah system administrasi, atau system internal partai. Kebanyakan partai tidak memiliki mekanisme penetapan caleg. Hal ini dikarenakan sebagian besar partai tenggelam oleh kebesaran nama ketua partai. Sehingga penentuan caleg, tidak didasarkan pada mekanisme organisasi yang jelas. Hal yang berbeda terjadi di PK Sejahtera, motif umum para caleg adalah untuk beribadah. Sehingga jadi caleg atau pun tidak, ongkos pemilu untuk Partai akan ditanggung bersama-sama. Benarkah seperti itu? Mari kita renungi masing-masing.
Benarkah tak ada pergolakan apapun terkait nomor urut caleg PK yang makin banyak menjadi tambatan harapan rakyat Indonesia ini? Sebagai sebuah taushiyah, tema itu tentu layak kita jadikan bahan sebagai bahan tadzkirah.
Abaikan sementara anggapan bahwa para kader yang menjadi caleg PK Sejahtera itu adalah orang-orang yang sudah sekian lama terbina dalam mekanisme pendidikan yang intensif. Karena berdasarkan petunjuk Al Quran dan hadits Rasulullah SAW, manusia mempunyai kecenderungan terhadap harta, wanita dan kekuasaan atau jabatan. Di zaman Rasulullah SAW pun, sejumlah sahabat diceritakan ada yang terpeleset dan tergiur saat berurusan dengan salah satu dari tiga titik kritis itu. Dalam urusan politik dan kekuasaan seperti sekarang, mungkin saja ada perasaan hubbur riasah, hubbul jah (cinta jabatan dan cinta kedudukan) yang mulai menghampiri kita. Ruang interaksi kita yang mulai menyentuh titik-titik kritis itu, sangat rentan bagi penyimpangan niat.
Apa indikasi penyimpangan niat? Mari kita ambil salah satu saja dari sabda Rasulullah SAW tentang hal ini. “Maukah kalian saya beritahu tentang perbuatan yang bagi saya itu lebih saya takuti daripada Al Masih Ad Dajjal?
Kami katakan: Ya,” Ia berkata: “Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Syirik khafiyy (yang tersembunyi) yaitu seseorang mengerjakan shalat kemudian ia perbaiki shalatnya karena ia mengetahui ada orang yang melihatnya.” (Shahih Sunan Ibni Majah 2/310).
Dalam konteks pencalegan dan nomor urut caleg, ketergelinciran dan penyimpangan orientasi itu bisa muncul bagi mereka yang kebetulan berada di papan nomor caleg jadi, maupun bagi mereka yang berada di papan nomor urut bawah.
Bagi kelompok pertama, yakni untuk mereka yang berada di nomor urut atas, penyimpangan yang terjadi terkait dengan hadits Rasulullah SAW, adalah ketika amal-amal dakwah mereka menguat hanya saat mereka mengetahui bahwa amal-amalnya kini diperhatikan dan menjadi sorotan orang banyak. Merasa bangga dengan posisinya menjadi nomor urut jadi. Merasa berada di atas caleg-caleg yang lain yang ada di bawahnya. Merasa amal-amalnya selama ini ternyata berbuah pada posisinya berada pada nomor urut atas. Memajukan dirinya, bukan organisasinya dan bukan jamaah dakwahnya, sebagai orang yang memang layak dipilih. Menganggap bahwa posisinya sebagai caleg jadi, adalah gerbang yang akan membawanya pada lembar kehidupan yang baru, yang paling tidak mapan secara finansial dan dihormati orang. Sensitif sekali memang, dan sulit sekali sekali membedakannya.
Bagi mereka yang kebetulan berada di posisi caleg nomor urut tidak jadi. Konteks hadits ini bisa bermakna penyimpangan mereka tatkala mereka menjadi lemah dalam bergerak, berdakwah, dan beramal secara umum untuk kepentingan dakwahnya. Merasa hasil kerja dakwahnya selama ini nyaris sia-sia karena tidak berada di urutan caleg jadi. Merasa bahwa orang-orang yang berada di atasnya, sebenarnya tidak layak menempati posisi itu. Merasa sungkan untuk lebih banyak berjuang dan berdakwah karena suaranya akan masuk pada mereka yang ada di atasnya. Mulai hitung-hitungan dalam berkorban karena menilai diri sendiri yang kurang mendapat apresiasi yang seharusnya. Menganggap bahwa posisinya yang tidak pada nomor urut caleg jadi, sebagai masalah yang menjadikan peluang kehidupannya tidak membaik sebagaimana mereka yang akan menjadi anggota legislatif. Sensitif sekali memang, dan sulit sekali membedakannya.
Apa jalan keluar yang paling penting kita lakukan? Terus menerus memperbaharui niat dan memantau keikhlasan dalam beramal dan bekerja. Itu juga yang menjadi inti pesan panjang Presiden Partai Keadilan Sejahtera Dr. Hidayat Nurwahid saat berbicara di hadapan para caleg di gedung YTKI kurang lebih satu bulan lalu. Berulangkali beliau menasihati para caleg untuk sama sekali tidak memandang soal nomor urut. Beliau menjelaskan betapa dalam sejarahnya Partai Keadilan Sejahtera tidak pernah mengenal yang bernama karir politik. Karena pada dasarnya motif masuknya PK Sejahtera dalam lapangan politik adalah masalah pertanggung jawaban terhadap publik. Dan, itu merupakan amanah yang sangat berat. Lalu siapa sebenarnya orang yang mau menanggung amanah berat ini? Di situlah pentingnya keikhlasan.
Ketergelinciran hati, penyimpangan orientasi itu memang sangat tipis dan sulit membedakannya. Rasulullah SAW bahkan pernah menyebut riya itu seperti seekor semut hitam yang ada di dalam gelap malam. Yusuf bin Al- Husain berkata. "Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya' dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain." Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran." Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun."
Ingat, takut tidak ikhlas tidak akan pernah menjadikan kita berhenti dari bekerja. Kekhawatiran tidak ikhlas harus menambah amal dan kerja dakwah kita lebih besar lagi agar kekhawatiran tidak ikhlas itu luruh.
Karenanya, mari saling bantu meluruskan dan mengikhlaskan niat. Karena keikhlasan adalah inti kekuatan dan etidakikhlasan adalah inti kelemahan dan kekalahan. (M Lili Nur Aulia)
Kirim ke rekan

| Cetak naskah ini
|
|
| Nomor Urut Caleg dan Upaya Memelihara Keikhlasan (Sebuah Taushiyah) | Log-in atau daftar username baru | 0 Komentar |
|
| Komentar adalah pernyataan yang dibuat oleh seseorang dari postingnya. Hal tersebut tidak harus mencerminkan opini dari situs ini. |
|